Sabtu, 22 Juni 2019

LIBURAN DAN WISATA KULINER SURAKARTA (SOLO) 3 HARI 3 MALAM (3D3N): HARI KEDUA (19 FEBRUARI 2019)

Lari Pagi di Gelora Manahan Solo


Pagi ini kami bangun pukul setengah lima. Dan setelah solat dan bersiap-siap ala kadarnya, Kembar A dan suaminya serta Kembar B berangkat ke Gelora Manahan untuk lari pagi. Suami Kembar B memilih untuk tetap tidur di hotel karena malas. Hahaha.

Lari pagi ini memang telah kami rencanakan di itinerary kami. Karena menurut kami, salah satu hal yang bisa dilakukan saat staycation adalah "living like a local" atau mencoba hidup seperti orang lokal, dan lari pagi adalah bagian dari itu.

Si Kembar hanya lari seadanya, sementara suami Kembar A malah sempat mengikuti senam pagi di suatu lapangan.

Kami memutuskan untuk keluar dari gelora menjelang pukul delapan dan berniat membeli salah satu makanan khas Solo, yaitu Cabuk Rambak. Namun, saat bertanya ke tukang parkir, dia mengatakan bahwa pedagang cabuk rambak di sekitar gelora sudah tidak jualan alias tutup permanen, sehingga akhirnya kami mencari alternatif makanan khas lain. Dalam perjalanan pulang, kami berbelol ke warung Tahu Kupat Pak Hadi yang terletak di Jalan Honggowongso. Tahu Kupat juga merupakan makanan khas Solo. Kami memesan tiga porsi untuk dimakan di tempat dan satu bungkus untuk suami Kembar B.

Sesampainya di hotel, kami segera mandi dan bersiap-siap. Setelahnya, kami segera berangkat ke destinasi berikutnya, yaitu Keraton Surakarta Hadiningrat.

Kulineran di Pasar Gede Harjonagoro


Dari Pop! kami melalui rute persis seperti waktu kami ke Tengkleng Klewer Bu Edi kemarin karena keraton ini memang terletak di area yang sama, yaitu di sekitar Alun-Alun Lor. Kami memarkir motor di sebuah halaman di dekat alun-alun dan berjalan kaki menuju ke arah keraton. Karena suasana cukup ramai oleh kendaraan, kami harus berjalan melipir di samping pagar-pagar tembok agar aman.

Tak berapa lama kami telah sampai di pintu gerbang yang mengarahkan kami ke sebuah halaman luas. Di ujung lain halaman, di sebuah bangunan entah apa, tampak tiga orang berpakaian seperti abdi keraton. Kami mendatangi mereka untuk berfoto sejenak, dan mereka meminta upah seikhlasnya.

Setelah berfoto, kami berjalan ke arah kanan, ke arah kendaraan lalu lalang. Sekitar 100 meter berjalan melewati jalanan berpaving, kami sampai di pintu masuk keraton.

Setelah kami membeli tiket, kami berempat masuk dan mulai menikmati suasana di dalam keraton. Karena ini sejenis museum, ya yang kita lakukan hanya melihat-lihat benda-benda bersejarah peninggalan keraton di dalamnya.

Tak lama kami di keraton. Setelah puas berkeliling, kami keluar dan berjalan kembali menuju ke tempat parkir motor. Sebelum itu, di halaman keraton kami sempat ditawari membeli foto yang ternyata sempat dijepret oleh salah satu fotografer saat kami berfoto dengan orang-orang yang berdandan seperti abdi keraton tadi, tapi kami menolak karena kami memang tidak menginginkannya. Kalau kalian mengalami hal serupa dan tidak mau membayar, ya bersikukuhlah untuk tidak membeli foto-foto tersebut. Pada akhirnya mereka akan menyerah dan tidak memaksa lagi.

Waktu itu cuaca sangat panas. Agak melenceng dari rencana awal, akhirnya kami memutuskan untuk berburu kuliner di Pasar Gede Harjonagoro. Kebetulan salah satu incaran kami adalah Dawet Telasih Bu Dermi yang cocok sekali dengan kondisi kami yang sangat kehausan.

Sesampainya di Pasar Gede Harjonagoro, kami sempat kebingungan beberapa saat sebelum akhirnya berhasil menemukan Dawet Telasih Bu Dermi. Untuk ukuran hanya dawet, bisa dibilang dawet ini cukup mahal, karena semangkok kecil berharga IDR 9.000.

Selesai minum dawet, kami lanjutkan mencari warung yang menjual makanan khas Solo yang lain, yaitu Brambang Asem. Dan kali ini, kami menemukannya dengan cukup mudah. Warungnya bernama "Makanan Khas Solo Lenjongan Bu Yuyun". Brambang Asem sendiri merupakan makanan yang bagi kami sangat aneh, karena terdiri dari sayur daun ketela rambat yang diberi kuah pedas yang dari rasanya sepertinya terbuat dari gula merah.

Selesai dari situ, karena panas yang terlampau menyengat, kami memutuskan untuk kembali saja ke hotel dan beristirahat sampai Asar.

Makan Nasi Buntel Tambak Segaran


Selesai mandi, solat Asar, dan sedikit berdandan, kami berburu kuliner lain yang agak berat, karena dari tadi siang kami memang belum makan makanan berat. Jadi sebenarnya, ini adalah makanan siang yang terlambat.

Kali ini, telah kami rencanakan dari awal untuk makan sate buntel, tapi kami mampir sejenak untuk membeli leker di daerah Gajahan terlebih dahulu. Perbedaan leker di Solo dengan leker-leker di tempat lain adalah, leker di Solo sangat gendut dan berharga IDR 4.000 & IDR 6.000 per buah tergantung isinya (leker di Surabaya sangat tipis dan hanya berharga IDR 500/buah). Yang kami kunjungi waktu itu adalah Leker Gajahan Bapak Fatoni yang kabarnya juga termasuk makanan legendaris di kota ini.

Waktu itu suasananya agak gerimis. Kami memakannya di tempat, sekalian menunggu gerimis mereda. Selesai makan, gerimisnya ternyata memang telah mereda. Alhamdulillah. Kami melanjutkan perjalanan untuk berburu Sate Buntel Tambak Segaran yang terletak sekitar 3 km dari tempat itu.

Dan lagi-lagi, Sate Buntel Tambak Segaran adalah makanan yang juga legendaris. Sate ini telah ada sejak tahun 1948. Ada beberapa menu olahan kambing di warung ini selain menu utamanya yang berupa sate buntel tersebut. Sate buntel sendiri merupakan sate yang terbuat dari cincangan daging kambing yang dibungkus dengan lemak kambing yang kemudian dibakar.

Karena suami Kembar B mengalami pusing-pusing setelah makan Tengkleng Klewer Bu Edi kemarin, diduga karena kolesterol naik, suami Kembar B tidak berani memesan sate ini, dan ganti memesan menu lain, yaitu nasi goreng kambing dengan pertimbangan yang menggunakan daging kambing paling sedikit (tapi ternyata isinya malah jeroan kambing, hehehe). Yang memesan sate buntel ini hanya si Kembar, sementara suami Kembar A memesan gule kambing. Dan secara keseluruhan, semuanya enak.

Selesai makan, karena hari telah menjelang senja, kami memutuskan untuk kembali ke hotel. Kami baru keluar lagi dari hotel pukul delapan lebih karena di luar ternyata masih hujan.

Makan Malam di Bakso Titoti


Kami bingung mau makan malam apa, dan akhirnya suami Kembar A mengajak kami untuk mencoba bakso solo di kota asal bakso ini. Akhirnya kami berbelok ke sebuah warung bakso bernama Titoti. Tentu tidak ada tulisan "bakso solo" nya, Guys. Kami di sana tidak lama, karena tak berapa lama setelah makanan kami habis, warung bakso tersebut tutup.

Setelah makan bakso, dengan perut yang telah kekenyangan, kami masih memutuskan untuk mampir di suatu angkringan untuk membeli sundukan dan kopi item. Selesai dari situ, kami kembali ke hotel, dan bersiap-siap tidur.

Jumat, 14 Juni 2019

LIBURAN DAN WISATA KULINER SURAKARTA (SOLO) 3 HARI 3 MALAM (3D3N): HARI PERTAMA (18 FEBRUARI 2019)

Hari:   Kedua   Ketiga

Itinerary   Biaya



Starting point: Surabaya
Traveler: Kembar A, Suami Kembar A, Kembar B, dan Suami Kembar B

Berangkat Menuju Surakarta dengan Kereta Pasundan


Kami sudah tiba di stasiun Gubeng sekitar pukul 07.30. Semua berjalan lancar dan Kereta Pasundan pun berangkat pukul 08.10.


Dalam perjalanan, tak lupa kami mengkonfirmasi keberangkatan ke pemilik persewaan motor Setasiun Motorent yang sudah kami hubungi sehari sebelumnya.

Tak ada hambatan selama perjalanan dan kami tiba tepat waktu di Stasiun Purwosari sekitar pukul 13.00.






Setelah menghubungi pemilik motor, kami diberi kontak Mbak Ayu yang selanjutnya akan mengurusi masalah persewaan.

Oleh Mbak Ayu, kami diminta langsung datang ke rumah saja yang ternyata lokasinya sangat dekat, yaitu di gang samping stasiun. Dari mulut gang, kami masih harus berjalan sekitar 50 meter.

Proses menyewa motor ternyata sangat mudah. Kami hanya perlu memberikan satu kartu identitas untuk jaminan. Setelah melakukan pelunasan, sebesar IDR 150.000 per motor untuk dua hari, kami segera melakukan pengecekan kelengkapan, berupa helm dan jas hujan.

Mencicipi Nikmatnya Tengkleng Klewer Bu Edi


Dari persewaan motor, kamu langsung menuju destinasi pertama kami, yaitu Tengkleng Klewer Bu Edi yang merupakan salah satu makanan legendaris yang ada di Kota Solo.

Kami menyalakan Google Maps dan ternyata lumayan dekat, hanya sekitar 5 km saja dari Stasiun Purwosari. Saat masih berada di Jalan Slamet Riyadi, gerimis yang sudah sejak di persewaan mulai turun semakin menderas. Kami terpaksa menepi dan memakai jas hujan yang tersedia di jok.
Gerimis yang cukup deras itu tidak membuat kami membatalkan rencana ke Klewer Bu Edi karena dari informasi yang kami dapat, jam bukanya sangat terbatas dan tengklengnya pun sangat cepat habis.

Dengan panduan Google Maps, kami akhirnya tiba di area Pasar Klewer. Namun, di situ kami sedikit kebingungan karena rupanya Tengkleng Klewer Bu Edi ini tidak terletak di pinggi jalan. Akhirnya kami bertanya ke seorang bapak yang ada di dekat situ. Dari bapaknya, kami dapat ancer-ancer menuju tempat yang kami cari.

Jadi, penandanya, sebelum masuk ke suatu gapura yang mengarah ke Pasar Klewer, kalian harus berbelok ke kanan dan warung tengkleng ini terletak di deretan warung-warung di sekitar situ.






Kami segera mengantri untuk memesan tengkleng. Cukup ramai tapi tidak sangat ramai. Mungkin karena saat itu hari kerja.



Kami memesan 5 porsi tengkleng biasa dan 4 gelas es teh. Harga tengkleng per porsinya memang cukup mahal, yaitu IDR 30.000. Namun memang isinya cukup banyak dan rasanya sungguh luar biasa enak.


Beristirahat di Pop! Hotel Solo


Setelah menyelesaikan makan siang kami, kami segera bergerak ke arah hotel kami, Pop! Hotel yang lokasinya dekat dengan Stasiun Purwosari. Setelah memarkir motor, kami segera melakukan check-in. Prosesnya cukup lancar dan tak begitu lama. Kami menyerahkan deposit 200.000 untuk dua kunci. Kami juga harus meminta stempel untuk tiket parkir motor kami. Dan ini terjadi setiap kali kami keluar dan kembali memarkir motor di tempat parkir hotel.


Kami naik ke lantai 6 tempat kamar kami berada. Berdasarkan ketersediaan kamar, kamar yang kami huni agak berjauhan meskipun masih berada di satu lantai.

Berbeda dengan Pop! Hotel Pemuda Semarang, di sini kami tidak mendapatkan view yang menarik. Jika Kembar A dapat view taman, Kembar B malah hanya dapat view bangunan sebelahnya, yaitu Harris Hotel.




Karena masih lelah dan hujan juga belum reda malah semakin deras, kami memutuskan untuk beristirahat dan bersantai terlebih dahulu.

Mencoba Timlo Sastro yang Legendaris


Kami baru keluar lagi selepas Asar. Tujuan kami selanjutnya adalah Timlo Sastro 2 yang ada di Jalan Dr Wahidin. Tempatnya tak begitu jauh. Kami tiba di sana sekitar 4 kurang.


Sebenarnya yang lebih legendaris adalah Timlo Sastro yang satunya yang ada di Jalan Kapten Mulyadi. Namun, karena warung itu sudah tutup pukul 15.30, kami memutuskan untuk makan di cabangnya ini.


Kami memesan empat timlo komplit dan dua nasi. Terus terang ini adalah pertama kalinya bagi kami berempat untuk makan timlo. Timlo ini adalah makanan berkuah yang isinya terdiri dari potongan rempelo ati, semur telur bebek, dan sosis solo. Menurut kami, rasanya cukup aneh untuk lidah kami. Meskipun kami bisa menghabiskan porsi kami, tapi sepertinya kami tidak akan mengulang makan di sini lagi.




Dari Timlo Sastro, kami kembali ke hotel dan memutuskan bersantai sejenak menunggu waktu Sholat Magrib dan Isya.


Makan Malam dengan Nasi Liwet Bu Wongso Lemu


Selepas Isya, kami masih bersantai saja di dalam kamar. Perut juga masih penuh. Rencananya, kami mau makan agak malam lagi nanti.

Kami baru keluar hotel pukul 21.00. Kami langsung bergerak ke arah Nasi Liwet Bu Wongso Lemu yang ada di Jalan Teuku Umar, yang lokasinya sangat dekat dengan hotel.


Kami memesan nasi liwet dada, sayap, dan suwiran.



Menurut si kembar, rasa nasi liwet kurang cocok di lidah. Mungkin agak sedikit asin untuk lidah Surabaya. Wkwkwk. Namun, para suami tampaknya lahap-lahap saja memakan nasi liwet ini.


Selesai makan, kami sempat memutari kota sebentar sebelum akhirnya kembali ke hotel dan tidur.


Hari:   Kedua   Ketiga

Itinerary   Biaya