Rabu, 11 September 2019

CARA CHECK-IN DI STASIUN KERETA API DENGAN FASILITAS E-BOARDING PASS DARI KAI ACCESS

Baru-baru ini, KAI meluncurkan program paperless berupa fasilitas “e-boarding pass” yang bisa diakses melalui aplikasi KAI Access. Fasilitas ini memungkinkan penumpang kereta yang sudah membeli tiket di KAI Access, Traveloka, atau aplikasi pemesanan tiket kereta api lainnya untuk melakukan check-in tanpa perlu mencetak boarding pass di stasiun.

Cara Menerbitkan E-Ticket melalui KAI Access


Untuk melakukan check-in di stasiun, kalian terlebih dahulu harus menerbitkan e-borading pass. Berikut ini adalah langkah-langkah untuk menerbitkan e-ticket melalui aplikasi KAI Access:

Kamis, 04 Juli 2019

BIAYA LIBURAN DAN WISATA KULINER SURAKARTA (SOLO) 3 HARI 3 MALAM (3D3N): 18 – 20 FEBRUARI 2019

Biaya liburan dan wisata kuliner kami ke Surakarta (Solo) adalah sebagai berikut:

Pengeluaran
Jumlah
GoCar ke Stasiun Gubeng
IDR 15.000
Sewa motor (2 hari)
IDR 300.000
Deposit Pop Hotel Solo (2 kunci)
IDR 100.000
Tengkleng Klewer Bu Edi (5 porsi tengkleng, 4 gelas es teh)
IDR 162.000
Parkir Tengkleng Klewer Bu Edi (2 motor)
IDR 4.000
Timlo Sastro (4 porsi timlo komplit, 2 nasi putih, 4 gelas teh anget, 6 kerupuk)
IDR 108.000
Kopi di hotel
IDR 30.000
Nasi Liwet Bu Wongso Lemu (2 porsi liwet sayap, 1 porsi liwet dada, 1 porsi liwet suwiran, 1 gelas jeruk panas, 3 gelas teh panas, 4 kerupuk)
IDR 118.000
Parkir Nasi Liwet Bu Wongso Lemu (2 motor)
IDR 4.000
Bensin (2 motor)
IDR 40.000
Parkir Gelora Manahan
IDR 2.000
Tahu Kupat (4 porsi tahu kupat, 3 gelas es teh, 1 kerupuk)
IDR 47.000
Parkir Tahu Kupat (2 motor)
IDR 4.000
Belanja di toko dekat hotel
IDR 35.500
Parkir Pasar Klewer (2 motor)
IDR 4.000
Uang sukarela untuk foto dengan prajurit
IDR 10.000
Tiket Keraton Surakarta (4 orang)
IDR 40.000
Parkir Pasar Gede (2 motor)
IDR 4.000
Dawet Telasih Bu Dermi (6 porsi)
IDR 54.000
Brambang Asem Yu Sum (4 porsi brambang asem, 2 porsi jajan pasar)
IDR 30.000
Air mineral di toko dekat hotel
IDR 3.500
Sate Buntel Tambak Segaran (2 porsi sate buntel, 1 porsi gule, 3 nasi putih, 1 nasi goreng kambing, 2 gelas gula asem, 1 gelas es teh, 1 gelas es jeruk)
IDR 228.000
Leker Gajahan Bapak Fathoni (4 coklat, 4 coklat keju)
IDR 40.000
Parkir Sate Buntel Tambak Segaran (2 motor)
IDR 4.000
Bakso Titoti
IDR 99.000
Parkir Bakso Titoti (2 motor)
IDR 4.000
Wedangan (4 gelas kopi, 2 jajan)
IDR 14.000
Parkir wedangan (2 motor)
IDR 4.000
Roti goreng (10 buah)
IDR 6.000
Parkir kolam renang (2 motor)
IDR 4.000
Tiket kolam renang (3 orang)
IDR 45.000
Warung Selat Mbak Lies (4 porsi selat bistik, 3 gelas teh anget, 4 jajan)
IDR 104.000
Parkir Warung Selat Mbak Lies ( 2 motor)
IDR 4.000
Serabi Notosuman (2 campur, 1 putih)
IDR 50.000
Parkir Serabi Notosuman
IDR 4.000
Tahu Kupat (4 porsi tahu kupat, 3 gelas es teh, 1 kerupuk)
IDR 51.000
Tiket Museum Sangiran (4 orang)
IDR 20.000
Parkir Museum Sangiran (2 motor)
IDR 4.000
Warung di Museum Sangiran (4 gelas kopi, 2 pop mi)
IDR 30.000
Souvenir
IDR 25.000
Bensin (1 motor)
IDR 15.000
Solo's Bistro
IDR 137.000
Parkir Solo's Bistro
IDR 5.000
Perpanjangan sewa motor (4 jam per motor, dibulatkan)
IDR 30.000
GoCar dari Stasiun Gubeng
IDR 15.000
TOTAL
IDR 2.057.000
Biaya per orang
IDR 514.250

Biaya tersebut belum termasuk biaya yang sudah terbayar sebelum traveling, yaitu:

Kereta
Tiket Kereta Api Pasundan jurusan Surabaya - Surakarta, 4 orang
IDR 352.000
Tiket Kereta Api Gaya Baru Malam Selatan jurusan Surakarta - Surabaya, 4 orang
IDR 392.000
Penginapan
Pop Hotel Solo, 2 hari, 2 kamar
IDR 1.300.000
TOTAL

IDR 2.044.000
Biaya per orang

IDR 511.000



ITINERARY LIBURAN DAN WISATA KULINER SURAKARTA (SOLO) 3 HARI 3 MALAM (3D3N): 18 – 20 FEBRUARI 2019




SENIN, 18 FEBRUARI 2019


- Berangkat ke Stasiun Gubeng dengan GoCar
- Kereta Pasundan jurusan Surakarta berangkat
- Tiba di Stasiun Purwosari, Surakarta
- Jalan kaki menuju Setasiun Motorent
- Melakukan pembayaran sewa motor untuk dua hari
- Makan tengkleng di Tengkleng Klewer Bu Edi
- Check-in di Pop! Hotel Solo
- Mandi, istirahat, salat di hotel
- Makan timlo di Timlo Sastro
- Kembali ke hotel, istirahat, salat
- Makan nasi liwet di Nasi Liwet Bu Wongso Lemu
- Kembali ke hotel, tidur


SELASA, 19 FEBRUARI 2019


- Bangun, salat Subuh
- Lari pagi di Stadion Gelora Manahan
- Sarapan tahu kupat di Tahu Kupat Pak Hadi
- Kembali ke hotel, mandi
- Menuju Keraton Surakarta
- Eksplorasi Keraton Surakarta
- Minum dawet telasih di Dawet Telasih Bu Dermi, Pasar Gede
- Makan brambang asem dan lenjongan di Lenjongan Yu Sum, Pasar Gede
- Kembali ke hotel, salat, tidur
- Makan leker di Leker Gajahan
- Makan sate buntel di Sate Tambak Segaran
- Kembali ke hotel, salat
- Makan bakso di Bakso Titoti
- Minum kopi di wedangan
- Kembali ke hotel, tidur

RABU, 20 FEBRUARI 2019


- Renang di Bengawan Sport Centre
- Sarapan selat di Warung Selat Mbak Lies
- Kembali ke hotel, mandi, nyicil packing
- Beli serabi di Serabi Notosuman
- Makan siang tahu kupat di Tahu Kupat Pak Hadi
- Kembali ke hotel, mandi, salat, check-out
- Memperpanjang sewa motor ke Mbak Ayu (Setasiun Motorent)
- Naik motor menuju Museum Manusia Purba Sangiran di Sragen
- Tiba di Museum Manusia Purba Sangiran di Sragen
- Minum kopi dan makan indomie di Museum Manusia Purba Sangiran
- Eksplorasi Museum Manusia Purba Sangiran
- Foto di jembatan unik di Museum Manusia Purba Sangiran
- Membeli oleh-oleh khas Museum Manusia Purba Sangiran
- Naik motor kembali ke Surakarta
- Makan malam di Solo’s Bistro
- Mengembalikan motor
- Jalan kaki menuju Stasiun Purwosari
- Istirahat dan salat di stasiun
- Kereta Gaya Baru Malam Selatan jurusan Surabaya berangkat


LIBURAN DAN WISATA KULINER SURAKARTA (SOLO) 3 HARI 3 MALAM (3D3N): HARI KETIGA (20 FEBRUARI 2019)

Sebagai bagian dari "living like a local", kami mengagendakan untuk renang dalam trip kami kali ini, terinspirasi dari perjalanan kami ke Semarang beberapa bulan lalu. Karena tidak ada kolam renang di hotel tempat kami menginap (dan jika berenang di Harris Hotel yang ada di sebelahnya tentu sangat mahal) kami mencari info tempat renang yang ada di Kota Surakarta.

Akhirnya, kami pun menemukan kolam renang yang agak jauh dari hotel, yaitu di Bengawan Sport Centre yang terletak di Jl. HOS Cokroaminoto, yang jaraknya sekitar 7 kilometer dari hotel kami.

Kami berangkat sekitar pukul enam pagi. Kami hanya bertiga karena Suami Kembar B masih ingin tidur-tiduran di hotel. Dalam perjalanan, kami menemukan ada penjual roti goreng di pinggir jalan. Kami membeli beberapa roti untuk sekadar pengganjal perut.

Kami tiba di tempat renang sekitar 15 menit kemudian. Tiket masuknya cukup murah yaitu IDR 15.000.

Untuk berenang di kolam dewasa, kalian diwajibkan memakai baju renang. Dan jika tidak mengenakan baju renang, kalian masih bisa berenang di kolam anak.

Karena tidak membawa baju renang, Kembar B akhirnya berenang di kolam anak ditemani oleh Kembar A sementara suami Kembar A berenang di kolam dewasa.

Kami berenang di situ selama hampir dua jam. Kami sebenarnya sedikit lupa waktu hingga akhirnya Suami Kembar B menghubungi dari hotel, mengatakan kalau dia sudah kelaparan. Wkwkwk.

Kami akhirnya segera membersihkan badan dan berganti pakaian kemudian bergegas menuju Warung Selat Mbak Lies yang memang sudah ada dalam itinerary kami.

Jarak warung ini dari kolam renang tadi adalah sekitar 6 kilometer. Google Maps membawa kami ke sebuah gang kecil yang sempat membuat kami berpikir kami salah arah. Ternyata benar, warung selat ini ada di sebuah gang kecil.

Kami memarkir motor di area sebelah warung. Warung Selat Mbak Lies ini memiliki dua bangunan yang saling berhadapan. Seorang bapak mempersilahkan kami ke suatu bangunan yang tampak lebih baru dan bersih karena bangunan yang lama masih dipel. Maklum, masih pagi. Kami memang pengunjung pertama saat itu.

Kami kemudian memesan 3 porsi selat untuk dimakan di situ dan 1 untuk dibungkus. Overall, kami suka dengan makanan ini. Memang cukup manis untuk lidah Jawa Timur, tapi makanan yang disajikan dalam satu porsi tersebut terasa sangat pas dan nikmat.

Selesai makan dan membayar, kami segera cabut. Namun, dalam perjalanan kembali ke hotel, kami sempatkan untuk melipir ke Benteng Vastenburg yang juga telah menjadi bagian dari itinerary kami, yang kebetulan lokasinya tak jauh dari satu dan berada searah dengan jalur pulang kami. Kami hanya berfoto di depan bangunan tersebut karena rupanya pintu gerbangnya dikunci dan memang sepertinya area ini tidak untuk dimasuki. Dari sini, kami bergegas kembali ke hotel.

Setibanya di hotel, kami segera menyicil packing karena kami akan check-out hari ini pukul 12.00. Setelah sedikit berdandan, sekitar pukul 10.00 kami keluar lagi. Tujuan kami kali ini adalah membeli serabi di Serabi Notosuman.

Lagi dan lagi, kami menggunakan Google Maps untuk menuju Serabi Notosuman. Di area tokonya, ada tempat khusus dimana kita bisa melihat karyawan yang sedang membuat serabi. Cukup unik untuk disaksikan.

Untuk membeli serabi, kalian harus masuk ke dalam toko. Kami membeli serabi campur, coklat dan original. Dan ternyata, serabinya uenak banget. Bikin pengen makan lagi dan lagi. Menurut kami berempat, serabi original jauh jauh lebih enak dan lebih recommended daripada serabi coklat. Kami hanya mencicip sedikit dan sisanya akan kami makan nanti dalam perjalanan.

Dari Serabi Notosuman, kami sempat galau, mau makan siang sekarang atau nanti mengingat saat itu masih pukul 11 lebih. Karena kami akan melakukan perjalanan ke Museum Manusia Purba Sangiran di Sragen setelah ini, kami memutuskan untuk memajukan jadwal makan siang kami.

Kebetulan dalam perjalanan menuju Serabi Notosuman tadi, kami melewati warung Tahu Kupat yang kemarin. Suami Kembar A memberi ide makan di situ dan kami semua mengiyakannya. Tahu Kupat ini termasuk makanan favorit kami sejauh ini dan yang pasti, harganya murah, yaitu hanya IDR 9.000 per porsi.

Selesai makan, kami kembali ke hotel. Kami sempatkan untuk mandi biar segar kembali dan menunggu azan agar bisa salat Zuhur di hotel. Setelah itu, kami baru check-out.

Sebelumnya, kami berencana untuk mengembalikan motor dan naik kendaraan umum ke Sragen. Namun, menimbang sulitnya kendaraan umum ke sana ditambah cuaca yang sedikit kurang mendukung, kami memutuskan untuk menambah masa sewa motor yang perhitungannya adalah 4.000 per jam per motor selama tidak lebih dari 6 jam. Jika lebih dari 6 jam akan dihitung sewa 1 hari.

Kami sempatkan mampir ke tempat Mbak Ayu tapi dia bilang "dikabari lewat whatsapp saja sudah cukup sebenarnya".

Dari tempat Mbak Ayu kami langsung menyalakan Google Maps dan melaju ke arah Museum Manusia Purba Sangiran. Di awal-awal perjalanan, kami masih dilewatkan di jalan besar yang banyak dilalui kendaraan umum. Mendekati lokasi, Google Maps membawa kami melalui jalan-jalan kecil pedesaan yang membelah persawahan, terhindarkan dari jalur yang ramai. Beberapa kali kami sempat berpikir kami tersasar, tapi Alhamdulillah ternyata Google Maps membawa kami di jalur yang tepat.

Kami akhirnya tiba di museum dalam waktu kurang lebih 1 jam. Kami langsung membayar tiket di pintu masuk. Di area museum, sudah terparkir beberapa bus pariwisata dari berbagai kota. Namun, secara keseluruhan, situasi relatif tidak terlalu ramai.

Para suami meminta istirahat terlebih dahulu di sebuah warung di area museum tersebut. Sementara Si Kembar hanya memesan kopi, para suami memesan kopi dan indomie plus telur. Harga makanannya terbilang murah mengingat ini adalah tempat wisata, dan yang pasti terdapat daftar makanan dengan rincian harga yang jelas jadi kami tidak takut kena zonk.

Selesai makan, kami masuk ke dalam museum. Ada pemeriksaan tiket di awal. Setelah itu, kami dibawa melewati lorong untuk menuju ruangan-ruangan di museum tersebut.

Dari lorong ini, kalian bisa melihat jembatan unik berbentuk tulang. Kalau ingin foto, segera berfoto saja karena kalau sudah memutar dan keluar lewat pintu keluar, kalian harus kembali ke pemeriksaan tiket di awal tadi karena tidak ada akses lain untuk menuju jembatan. Jembatan ini membawa ke area penjualan souvenir juga lho jadi kalau ingin membeli souvenir ya sekalian saja.

Setelah puas mengeksplorasi museum, berfoto-foto sekaligus membeli souvenir, kami segera cabut. Masih belum lama meninggalkan museum, gerimis mulai turun. Kami segera menepi dan memakai jas hujan. Semula kami berniat untuk berteduh tapi hujan malah semakin deras dan sepertinya tidak akan reda dalam waktu dekat.

Kami akhirnya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Karena tidak bisa lagi menggunakan handphone untuk melihat Google Maps, kami sempat bertanya kepada dua orang yang kami temui.

Alhamdulillah, dengan waktu yang lebih lama daripada saat berangkat tadi, berbekal arahan dari dua orang baik yang kami temui tadi, kami akhirnya bisa kembali ke Kota Surakarta dengan selamat dan cukup basah kuyup.

Kereta kami, yaitu Kereta Gaya Baru Malam Selatan jurusan Surabaya, baru akan datang sekitar pukul 20.00 dan saat itu masih belum ada pukul 1800. Kami sempat bingung mau kemana. Di tengah kegalauan, kami berbelok ke Taman Sriwedari berniat untuk sekadar makan atau bersantai, bermodal dengan gambaran mental di otak kami mengenai Taman Sriwedari yang didasarkan pada lagu Malik and D'Essentials.

Sayangnya, kami justru kecewa berat. Taman Sriwedari tampak tak terawat, kotor, dan bahkan bisa dibilang jorok. Apalagi dalam situasi hujan seperti itu. Si Kembar langsung merengek untuk segera meninggalkan tempat itu.

Kami segera browsing tempat makan yang kiranya enak dan nyaman, yang lokasinya tak jauh dari situ karena saat itu hujan masih terus mengguyur. Akhirnya pilihan jatuh di Solo's Bistro.

Tanpa menunggu lebih lama, kami pun cabut. Dalam waktu kurang dari 5 menit, kami telah tiba di Solo's Bistro.

Kami masuk dan segera memesan makanan. Sembari menunggu pesanan kami datang, kami juga memanfaatkan waktu untuk salat Asar dan sekaligus sedikit mengeringkan diri.

Ketika makanan kami tiba, kami segera makan dengan lahapnya. Makanannya enak dan harganya cukup terjangkau untuk kelas restoran seperti ini. Apalagi perut kami juga kelaparan setelah kena guyuran hujan sejak tadi.

Selesai makan dan membayar, kami masih bersantai sejenak. Kami menunggu hujan sedikit lebih reda sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan. Kami sedikit ngebut menuju ke tempat Mbak Ayu. Kebetulan Mbak Ayu sedang ada di depan rumah jadi kami yang sudah menggigil kedinginan ini tak perlu menunggu terlalu lama.

Dari jadwal pengembalian, kami hanya molor 4 jam jadi untuk dua motor itu kami hanya menambah IDR 32.000 yang sama Mbak Ayu dibulatkan menjadi IDR 30.000 saja.

Selesai mengembalikan kunci serta semua kelengkapan motor dan kartu identitas kami pun juga dikembalikan, kami segera berpamitan dan berlari kecil ke arah stasiun. Untung sudah ada jalur yang beratap dekat dengan pintu masuk stasiun jadi kami tak perlu terlalu lama kehujanan.

Waktu menunggu kereta yang masih cukup lama kami manfaatkan untuk berganti pakaian dan mengeringkan diri. Hujan tak kunjung berhenti, malah semakin deras. Kami bersyukur sekali sudah duduk nyaman di stasiun.

Kereta akhirnya datang pukul 20.00. Kami segera naik dan mencari tempat duduk kami. Tak berapa lama kami pun tertidur dalam perjalanan menuju Surabaya.


Sabtu, 22 Juni 2019

LIBURAN DAN WISATA KULINER SURAKARTA (SOLO) 3 HARI 3 MALAM (3D3N): HARI KEDUA (19 FEBRUARI 2019)

Lari Pagi di Gelora Manahan Solo


Pagi ini kami bangun pukul setengah lima. Dan setelah solat dan bersiap-siap ala kadarnya, Kembar A dan suaminya serta Kembar B berangkat ke Gelora Manahan untuk lari pagi. Suami Kembar B memilih untuk tetap tidur di hotel karena malas. Hahaha.

Lari pagi ini memang telah kami rencanakan di itinerary kami. Karena menurut kami, salah satu hal yang bisa dilakukan saat staycation adalah "living like a local" atau mencoba hidup seperti orang lokal, dan lari pagi adalah bagian dari itu.

Si Kembar hanya lari seadanya, sementara suami Kembar A malah sempat mengikuti senam pagi di suatu lapangan.

Kami memutuskan untuk keluar dari gelora menjelang pukul delapan dan berniat membeli salah satu makanan khas Solo, yaitu Cabuk Rambak. Namun, saat bertanya ke tukang parkir, dia mengatakan bahwa pedagang cabuk rambak di sekitar gelora sudah tidak jualan alias tutup permanen, sehingga akhirnya kami mencari alternatif makanan khas lain. Dalam perjalanan pulang, kami berbelol ke warung Tahu Kupat Pak Hadi yang terletak di Jalan Honggowongso. Tahu Kupat juga merupakan makanan khas Solo. Kami memesan tiga porsi untuk dimakan di tempat dan satu bungkus untuk suami Kembar B.

Sesampainya di hotel, kami segera mandi dan bersiap-siap. Setelahnya, kami segera berangkat ke destinasi berikutnya, yaitu Keraton Surakarta Hadiningrat.

Kulineran di Pasar Gede Harjonagoro


Dari Pop! kami melalui rute persis seperti waktu kami ke Tengkleng Klewer Bu Edi kemarin karena keraton ini memang terletak di area yang sama, yaitu di sekitar Alun-Alun Lor. Kami memarkir motor di sebuah halaman di dekat alun-alun dan berjalan kaki menuju ke arah keraton. Karena suasana cukup ramai oleh kendaraan, kami harus berjalan melipir di samping pagar-pagar tembok agar aman.

Tak berapa lama kami telah sampai di pintu gerbang yang mengarahkan kami ke sebuah halaman luas. Di ujung lain halaman, di sebuah bangunan entah apa, tampak tiga orang berpakaian seperti abdi keraton. Kami mendatangi mereka untuk berfoto sejenak, dan mereka meminta upah seikhlasnya.

Setelah berfoto, kami berjalan ke arah kanan, ke arah kendaraan lalu lalang. Sekitar 100 meter berjalan melewati jalanan berpaving, kami sampai di pintu masuk keraton.

Setelah kami membeli tiket, kami berempat masuk dan mulai menikmati suasana di dalam keraton. Karena ini sejenis museum, ya yang kita lakukan hanya melihat-lihat benda-benda bersejarah peninggalan keraton di dalamnya.

Tak lama kami di keraton. Setelah puas berkeliling, kami keluar dan berjalan kembali menuju ke tempat parkir motor. Sebelum itu, di halaman keraton kami sempat ditawari membeli foto yang ternyata sempat dijepret oleh salah satu fotografer saat kami berfoto dengan orang-orang yang berdandan seperti abdi keraton tadi, tapi kami menolak karena kami memang tidak menginginkannya. Kalau kalian mengalami hal serupa dan tidak mau membayar, ya bersikukuhlah untuk tidak membeli foto-foto tersebut. Pada akhirnya mereka akan menyerah dan tidak memaksa lagi.

Waktu itu cuaca sangat panas. Agak melenceng dari rencana awal, akhirnya kami memutuskan untuk berburu kuliner di Pasar Gede Harjonagoro. Kebetulan salah satu incaran kami adalah Dawet Telasih Bu Dermi yang cocok sekali dengan kondisi kami yang sangat kehausan.

Sesampainya di Pasar Gede Harjonagoro, kami sempat kebingungan beberapa saat sebelum akhirnya berhasil menemukan Dawet Telasih Bu Dermi. Untuk ukuran hanya dawet, bisa dibilang dawet ini cukup mahal, karena semangkok kecil berharga IDR 9.000.

Selesai minum dawet, kami lanjutkan mencari warung yang menjual makanan khas Solo yang lain, yaitu Brambang Asem. Dan kali ini, kami menemukannya dengan cukup mudah. Warungnya bernama "Makanan Khas Solo Lenjongan Bu Yuyun". Brambang Asem sendiri merupakan makanan yang bagi kami sangat aneh, karena terdiri dari sayur daun ketela rambat yang diberi kuah pedas yang dari rasanya sepertinya terbuat dari gula merah.

Selesai dari situ, karena panas yang terlampau menyengat, kami memutuskan untuk kembali saja ke hotel dan beristirahat sampai Asar.

Makan Nasi Buntel Tambak Segaran


Selesai mandi, solat Asar, dan sedikit berdandan, kami berburu kuliner lain yang agak berat, karena dari tadi siang kami memang belum makan makanan berat. Jadi sebenarnya, ini adalah makanan siang yang terlambat.

Kali ini, telah kami rencanakan dari awal untuk makan sate buntel, tapi kami mampir sejenak untuk membeli leker di daerah Gajahan terlebih dahulu. Perbedaan leker di Solo dengan leker-leker di tempat lain adalah, leker di Solo sangat gendut dan berharga IDR 4.000 & IDR 6.000 per buah tergantung isinya (leker di Surabaya sangat tipis dan hanya berharga IDR 500/buah). Yang kami kunjungi waktu itu adalah Leker Gajahan Bapak Fatoni yang kabarnya juga termasuk makanan legendaris di kota ini.

Waktu itu suasananya agak gerimis. Kami memakannya di tempat, sekalian menunggu gerimis mereda. Selesai makan, gerimisnya ternyata memang telah mereda. Alhamdulillah. Kami melanjutkan perjalanan untuk berburu Sate Buntel Tambak Segaran yang terletak sekitar 3 km dari tempat itu.

Dan lagi-lagi, Sate Buntel Tambak Segaran adalah makanan yang juga legendaris. Sate ini telah ada sejak tahun 1948. Ada beberapa menu olahan kambing di warung ini selain menu utamanya yang berupa sate buntel tersebut. Sate buntel sendiri merupakan sate yang terbuat dari cincangan daging kambing yang dibungkus dengan lemak kambing yang kemudian dibakar.

Karena suami Kembar B mengalami pusing-pusing setelah makan Tengkleng Klewer Bu Edi kemarin, diduga karena kolesterol naik, suami Kembar B tidak berani memesan sate ini, dan ganti memesan menu lain, yaitu nasi goreng kambing dengan pertimbangan yang menggunakan daging kambing paling sedikit (tapi ternyata isinya malah jeroan kambing, hehehe). Yang memesan sate buntel ini hanya si Kembar, sementara suami Kembar A memesan gule kambing. Dan secara keseluruhan, semuanya enak.

Selesai makan, karena hari telah menjelang senja, kami memutuskan untuk kembali ke hotel. Kami baru keluar lagi dari hotel pukul delapan lebih karena di luar ternyata masih hujan.

Makan Malam di Bakso Titoti


Kami bingung mau makan malam apa, dan akhirnya suami Kembar A mengajak kami untuk mencoba bakso solo di kota asal bakso ini. Akhirnya kami berbelok ke sebuah warung bakso bernama Titoti. Tentu tidak ada tulisan "bakso solo" nya, Guys. Kami di sana tidak lama, karena tak berapa lama setelah makanan kami habis, warung bakso tersebut tutup.

Setelah makan bakso, dengan perut yang telah kekenyangan, kami masih memutuskan untuk mampir di suatu angkringan untuk membeli sundukan dan kopi item. Selesai dari situ, kami kembali ke hotel, dan bersiap-siap tidur.

Jumat, 14 Juni 2019

LIBURAN DAN WISATA KULINER SURAKARTA (SOLO) 3 HARI 3 MALAM (3D3N): HARI PERTAMA (18 FEBRUARI 2019)

Hari:   Kedua   Ketiga

Itinerary   Biaya



Starting point: Surabaya
Traveler: Kembar A, Suami Kembar A, Kembar B, dan Suami Kembar B

Berangkat Menuju Surakarta dengan Kereta Pasundan


Kami sudah tiba di stasiun Gubeng sekitar pukul 07.30. Semua berjalan lancar dan Kereta Pasundan pun berangkat pukul 08.10.


Dalam perjalanan, tak lupa kami mengkonfirmasi keberangkatan ke pemilik persewaan motor Setasiun Motorent yang sudah kami hubungi sehari sebelumnya.

Tak ada hambatan selama perjalanan dan kami tiba tepat waktu di Stasiun Purwosari sekitar pukul 13.00.






Setelah menghubungi pemilik motor, kami diberi kontak Mbak Ayu yang selanjutnya akan mengurusi masalah persewaan.

Oleh Mbak Ayu, kami diminta langsung datang ke rumah saja yang ternyata lokasinya sangat dekat, yaitu di gang samping stasiun. Dari mulut gang, kami masih harus berjalan sekitar 50 meter.

Proses menyewa motor ternyata sangat mudah. Kami hanya perlu memberikan satu kartu identitas untuk jaminan. Setelah melakukan pelunasan, sebesar IDR 150.000 per motor untuk dua hari, kami segera melakukan pengecekan kelengkapan, berupa helm dan jas hujan.

Mencicipi Nikmatnya Tengkleng Klewer Bu Edi


Dari persewaan motor, kamu langsung menuju destinasi pertama kami, yaitu Tengkleng Klewer Bu Edi yang merupakan salah satu makanan legendaris yang ada di Kota Solo.

Kami menyalakan Google Maps dan ternyata lumayan dekat, hanya sekitar 5 km saja dari Stasiun Purwosari. Saat masih berada di Jalan Slamet Riyadi, gerimis yang sudah sejak di persewaan mulai turun semakin menderas. Kami terpaksa menepi dan memakai jas hujan yang tersedia di jok.
Gerimis yang cukup deras itu tidak membuat kami membatalkan rencana ke Klewer Bu Edi karena dari informasi yang kami dapat, jam bukanya sangat terbatas dan tengklengnya pun sangat cepat habis.

Dengan panduan Google Maps, kami akhirnya tiba di area Pasar Klewer. Namun, di situ kami sedikit kebingungan karena rupanya Tengkleng Klewer Bu Edi ini tidak terletak di pinggi jalan. Akhirnya kami bertanya ke seorang bapak yang ada di dekat situ. Dari bapaknya, kami dapat ancer-ancer menuju tempat yang kami cari.

Jadi, penandanya, sebelum masuk ke suatu gapura yang mengarah ke Pasar Klewer, kalian harus berbelok ke kanan dan warung tengkleng ini terletak di deretan warung-warung di sekitar situ.






Kami segera mengantri untuk memesan tengkleng. Cukup ramai tapi tidak sangat ramai. Mungkin karena saat itu hari kerja.



Kami memesan 5 porsi tengkleng biasa dan 4 gelas es teh. Harga tengkleng per porsinya memang cukup mahal, yaitu IDR 30.000. Namun memang isinya cukup banyak dan rasanya sungguh luar biasa enak.


Beristirahat di Pop! Hotel Solo


Setelah menyelesaikan makan siang kami, kami segera bergerak ke arah hotel kami, Pop! Hotel yang lokasinya dekat dengan Stasiun Purwosari. Setelah memarkir motor, kami segera melakukan check-in. Prosesnya cukup lancar dan tak begitu lama. Kami menyerahkan deposit 200.000 untuk dua kunci. Kami juga harus meminta stempel untuk tiket parkir motor kami. Dan ini terjadi setiap kali kami keluar dan kembali memarkir motor di tempat parkir hotel.


Kami naik ke lantai 6 tempat kamar kami berada. Berdasarkan ketersediaan kamar, kamar yang kami huni agak berjauhan meskipun masih berada di satu lantai.

Berbeda dengan Pop! Hotel Pemuda Semarang, di sini kami tidak mendapatkan view yang menarik. Jika Kembar A dapat view taman, Kembar B malah hanya dapat view bangunan sebelahnya, yaitu Harris Hotel.




Karena masih lelah dan hujan juga belum reda malah semakin deras, kami memutuskan untuk beristirahat dan bersantai terlebih dahulu.

Mencoba Timlo Sastro yang Legendaris


Kami baru keluar lagi selepas Asar. Tujuan kami selanjutnya adalah Timlo Sastro 2 yang ada di Jalan Dr Wahidin. Tempatnya tak begitu jauh. Kami tiba di sana sekitar 4 kurang.


Sebenarnya yang lebih legendaris adalah Timlo Sastro yang satunya yang ada di Jalan Kapten Mulyadi. Namun, karena warung itu sudah tutup pukul 15.30, kami memutuskan untuk makan di cabangnya ini.


Kami memesan empat timlo komplit dan dua nasi. Terus terang ini adalah pertama kalinya bagi kami berempat untuk makan timlo. Timlo ini adalah makanan berkuah yang isinya terdiri dari potongan rempelo ati, semur telur bebek, dan sosis solo. Menurut kami, rasanya cukup aneh untuk lidah kami. Meskipun kami bisa menghabiskan porsi kami, tapi sepertinya kami tidak akan mengulang makan di sini lagi.




Dari Timlo Sastro, kami kembali ke hotel dan memutuskan bersantai sejenak menunggu waktu Sholat Magrib dan Isya.


Makan Malam dengan Nasi Liwet Bu Wongso Lemu


Selepas Isya, kami masih bersantai saja di dalam kamar. Perut juga masih penuh. Rencananya, kami mau makan agak malam lagi nanti.

Kami baru keluar hotel pukul 21.00. Kami langsung bergerak ke arah Nasi Liwet Bu Wongso Lemu yang ada di Jalan Teuku Umar, yang lokasinya sangat dekat dengan hotel.


Kami memesan nasi liwet dada, sayap, dan suwiran.



Menurut si kembar, rasa nasi liwet kurang cocok di lidah. Mungkin agak sedikit asin untuk lidah Surabaya. Wkwkwk. Namun, para suami tampaknya lahap-lahap saja memakan nasi liwet ini.


Selesai makan, kami sempat memutari kota sebentar sebelum akhirnya kembali ke hotel dan tidur.


Hari:   Kedua   Ketiga

Itinerary   Biaya